Showing posts with label TOKOH KIMIA. Show all posts
Showing posts with label TOKOH KIMIA. Show all posts

Saturday, February 12, 2011

Donald James Cram, Jean-Marie Lehn, Charles J. Pedersen : Peraih Nobel kimia 1987

Penemuan eter mahkota

Senyawa klatrat semacam urea dan hidrokuinon sungguh merupakan kejutan bagi kimiawan. Namun, harus diakui bahwa dalam kristal tamu dan tuan rumahnya harus berdekatan. Dalam kasus semacam ini, intetraksi lemah mungkin terjadi, walaupun interaksi semacam ini di luar lingkup ikatan kimia konvensional. Namun, situasinya akan berbeda di larutan

Sekitar tahun 1967, kimiawan Amerika Charles J. Pedersen (1904-1989) mendapatkan eter siklik sebagai produk samping salah satu reaksi yang dia pelajari. Ia mempelajari dengan baik sifat-siaft aneh eter ini. Senyawa ini sukar larut dalam metanol, tetapu menjadi mudah larut bila ia menambahkan garam natrium dalam campurannya. Lebih lanjut, larutan dalam benzen eter ini dapat melarutkan kalium dikromat K2Cr2O7 dan menunjukkan warna ungu yang antik. Ia sangat bingung menjelaskan fenomena-fenomena ini, mengatakan bahwa ion natrium atau kalium nampak masuk dalam rongga di pusta molekul ini (Gambar 14. 1).

(a) eter mahkota dibenzo -18 bebas. (b) eter mahkota dibenzo -18 yang menangkap ion K+.

Dari “Crown Ethers & Cryptands” oleh G. Gokel, Royal Society of Chemistry, 1991

Beberapa tahun kemudian terbukti bahwa ide Pedersen ternyata benar, dan memang, kation terjebak dalam rongga molekulnya. Dia mengusulkan nama senyawa ini eter mahkota karena bentuk molekulnya mirip mahkota, dan usulnya ini diterima masyarakat kimia dunia. Di tahun 1987, bersama dengan kimiawan Amerika lain Donald James Cram (1919-2001) dan kimiawan Perancis Jean-Marie Lehn (1939-), Pedersen dianugerahi hadiah Nobel Kimia.

Arthur Arden : Peraih Nobel Kimia 1929

Arthur Arden dilahirkan di Manchester, Inggris pada tanggal 12 Oktober 1865. Dia masuk ke The Owens College di University of Manchester pada 1882 dan lulus pada tahun 1885 dengan mendapatkan penghargaan tingkat pertama dalam bidang kimia. Pada tahun 1886, dia mendapatkan beasiswa Dalton di bidang kimia yang mengizinkannya untuk menghabiskan waktunya selama 12 bulan pada rentang 1887-18888 untuk bekerja bersama Otto Fischer di Erlangen, Jerman. Dia kembali ke Manchester sebagai dosen sampai tahun 1897. Kemudian, dia ditetapkan sebagai ahli kimia pada lembaga yang baru didirikan yaitu British Institute of Preventive Medicine, yang kemudian berubah menjadi Lister Institute. Pada tahun 1907, di ditunjuk sebagai kepala departemen Biokimia, sebuah posisi yang dia pegang sampai pensiun pada tahun 1930. Dia memperoleh gelar Profesor Emeritus di bidang kimia dari University of London pada tahun 1912. Dia melanjutkan penelitian ilmiahnya pada institusi ini sampai masa pensiunnya.

Dia mempelajari tingkah laku cahaya pada campuran karbon dioksida dan klor. Dia menerapkan metode ini untuk menyelidiki fenomena biologis termasuk didalamnya tingkah laku bakteri secara kimiawi dan fermentasi alkohol. Dia memperlajari penghancuran glukosa dan sifat kimia sel ragi. Sifat kimia dari fermentasi gula dengan menggunakan jus ragi yang dipelajarinya memberikan pengetahuan lanjutan mengenai proses metabolisme perantara pada semua bentuk kehidupan. Dia juga memberikan kontribusi pada bidang kajian vitamin melalui serangkaian tulisannya mengenai vitamin antiskorbutik dan antineuritik pada makanan dan minuman.

Bersama dengan W. M. Bayliss, dia bekerjasama sebagai editor the Biochemical Journal dari tahun 1913 sampai 1938. Dia juga merupakan penulis Alcoholic Fermentation, A New View of the Origin of Dalton’s Atomic Theory, dan Chemistry for Advanced Studies (bersama H.E. Roscoe), Inorganic Chemistry for Advanced Students, dan An Elementary Course of Practical Organic Chemistry (bersama F.C. Garrett).

Pada tahun 1926 dia memperoleh gelar bangsawan. Dia menperoleh gelar doktor kehormatan bidang sains dari University of Athens dan doktor kehormatan di bidang Hukum dari University of Manchester dan University of Liverpool. Pada tahun 1909, dia menjadi anggota The Royal Society dan memperoleh Davy Medal pada tahun 1935. pada tahun 1929, dia meraih Nobel Prize di bidang kimia bersama Hans Euler-Chelpin untuk penelitian mereka mengenai fermentasi gula dan fermaentasi enzim.

Dia menikahi Georgina Sydney Bridge pada tahun 1900 dan mereka tidak mempunyai anak. Istrinya meninggal pada Januari 1928 dan dia sendiri meninggla pada 17 Juni 1940 di rumahnya di Bourne End, Buckinghamshire, Inggris

Kary B.Mullis : Peraih Nobel Kimia 1993

Siapa bilang DNA hanya bisa digandakan di dalam tubuh? Sekarang, cukup beberapa jam saja, jutaan DNA bisa diperbanyak, dengan teknik yang sederhana pula.

Siapa orang yang paling berjasa sehingga teknik ini bisa dilakukan? Adalah Kary Banks Mullis, peraih nobel kimia tahun 1993 yang paling berjasa besar menemukan teknik ini. Mullis telah berjasa menemukan teknik penggandaan DNA di luar tubuh yang akhirnya membuatnya menerima penghargaan tertinggi bagi para ilmuan di dunia, hadiah Nobel. Tekniknya ini dikenal hingga saat ini, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR). Teknik ini juga yang digunakan ahli kesehatan untuk mengidentifikasi terkena atau tidaknya seseorang oleh virus flu burung.

Kary Mullis lahir di Lenoir, California Utara, tanggal 28 Desember 1944. Mullis menerima gelar sarjananya dalam bidang kimia dari Institut Teknologi Georgia tahun 1966, dan memperoleh Ph.D.-nya dalam bidang Biokimia dari Universitas California, Berkeley, di tahun 1972.

Setelah menyelesaikan studi Ph.D.-nya, Mullis menjadi pengajar bidang Biokimia sampai tahun 1973. Di tahun yang sama, Mullis mengambil postdoktoralnya di bagian pediatric cardiology, University of Kansas Medical School, dengan penekanan dalam angiotensin and pulmonary vascular physicology.

Di tahun 1977, Mullis memulai pekerjaan postdoktoralnya selama 2 tahun di Universitas California, San Francisco. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Cetus Corp. di Emeryville, California, sebagai peneliti DNA. Selama tujuh tahun di Cetus Corp., Mullis melakukan riset terhadap sintesis oligonucleotide dan akhirnya menemukan teknik PCR.

Tahun 1986, Mullis diangkat menjadi Direktur Biologi Molekular di Xytronyx, Inc. di San Diego, di mana ia berkonsentrasi pada teknologi DNA dan fotokimia. Setahun kemudian, Mullis menjadi konsultan Kimia Asam Nukleat untuk banyak perusahaan dan laboratorium termasuk Angenics, Cytometrics, Eastman Kodak, Abbott Labs, dan Milligen/Biosearch.

Dedikasinya terhadap bidang Biokimia terutama DNA membuat Mullis akhirnya meraih hadiah Nobel bidang kimia di tahun 1993. Dr. Karry Mullis juga telah mendapatkan banyak paten dari penelitian-penelitian yang dilakukannya, di antaranya adalah teknologi PCR dan plastic sensitive UV yang akan berubah warna bila terkena cahaya. Paten paling barunya adalah pendekatan revolusionar untuk mobilisasi system kekebalan secara instant melawan serangan bahan pathogen dan racun.

Kary B.Mullis telah banyak mendapat penghargaan untuk dedikasinya terhadap sains, diantaranya the Japan Prize (1993) untuk penemuan PCR, the Thomas A. Edison Award (1993); California Scientist of the Year Award (1992); the National Biotechnology Award (1991); the Gairdner Award, Toronto, Canada (1991); the R&D Scientist of the Year (1991); the William Allan Memorial Award of the American Society of Human Genetics (1990); dan the Preis Biochemische Analytik of the German Society of Clinical Chemistry and Boehringer Mannheim (1990). Tahun 1994, Dr. Mullis dinobatkan menjadi Doctor of Science dari the University of South Carolina. Empat tahun kemudian, namanya dimasukkan ke dalam the National Inventors Hall of Fame.

Sekarang, Dr. Kary Mullis menjadi peneliti kehormatan di Children’s Hospital and Research Institute in Oakland, California, dan tinggal bersama isterinya, Nancy Cosgrove Mullis, di Newport Beach, California, dan di Anderson Valley, California.

Marie Curie : Peraih Nobel Kimia 1911

Marie Curie adalah satu-satunya perempuan yang memenangkan dua nobel. Ia sekaligus pendobrak bias jender dalam dunia sains abad ke-20. Berkat jasanya, wanita semakin diakui kontribusinya dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang kimia. Dilahirkan 7 November 1867 di Warsawa, Polandia, ia bernama kecil Maria Sklodowska. Pada masa itu, rakyat Polandia menderita karena penjajahan Rusia. Bahkan ayah Marie dipecat dari pekerjaannya sebagai guru gara-gara dituduh mengobarkan nasionalisme untuk melawan penjajah Rusia. Malang pula bagi keluarga Marie karena saat ia baru berumur 10 tahun sudah ditinggal ibunya yang meninggal karena kesulitan berobat TBC. Namun Marie kecil adalah anak yang cemerlang meski harus menyiapkan keperluan rumah tangga sendiri, bakat intelektualnya terlihat menonjol semasa bersekolah. Dia berhasil lulus dengan medali emas dari sekolahnya pada usia 15 tahun. Meskipun demikian situasi perang Polandia dan diskriminasi jenis kelamin tidak memungkinkannya melanjutkan sekolah sampai universitas.

Setelah lama mencari-cari arah hidupnya akhirnya dia menemukan romantisme pada "penemuan ilmiah". Namun tidak gampang bagi muda-mudi Polandia untuk belajar karena hal itu dilarang oleh pemerintah penjajah sehingga mereka harus sembunyi-sembunyi mengadakan kuliah dan diskusi ilegal. Minatnya pada ilmu membuat Marie dengan kakaknya berniat belajar di Paris dan bergantian dalam membiayai ongkosnya. Marie memutuskan kakaknya (Bronia) pergi ke Paris terlebih dahulu dengan tabungan bersama mereka. Selama ia menunggu gilirannya, Marie banyak membenamkan diri dalam buku-buku ilmu pengetahuan sambil bekerja sebagai pengasuh anak untuk mencari uang untuk ditabung dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebagai gadis miskin cintanya pernah ditolak oleh seorang pemuda kaya kerena dianggap tidak sebanding hartanya. Begitulah cinta pertamanya berakhir dengan kepahitan yang hampir membuatnya putus asa. Tapi hal itu justru menambah semangatnya untuk menjadi maju dan memimpikan Paris, kota yang bak magnet bagi para pengelana muda.

Sorbonne

Saat berusia 24 tahun impian studinya tercapai, ia diterima di Faculte de Sciences Universitas Sorbonne, Paris. Kala itu sains lagi naik daun menggeser pamor dari ilmu sastra dan teologi yang pernah berjaya. Di zaman itu, di Sorbonne terdapat para pelopor riset modern yang menjadi gurunya seperti Emile Duclaux, Henri Poincare dan Gabriel Lippman. Suasana kota Paris pun tidak kalah menariknya hingga Marie benar-benar merasakan kebebasan yang tidak bisa didapatkan di negara asalnya. Ia bahkan mengubah namanya menjadi dari Maria menjadi Marie karena kecintaannya pada pula pada Paris. Namun meski hidup di pusat mode, dia selalu bersahaja dalam segala hal termasuk dalam gaya berpakaiannya yang praktis (seperti terlihat pada foto).

Karena sifatnya yang pemalu dan kurang lancar berbahasa Perancis, Marie kurang banyak bergaul dengan teman-teman dari Perancis. Jadwal utamanya di Paris hanyalah mengikuti kuliah, praktikum di lab dan membaca di perpustakaan. Waktu inilah yang dianggapnya sebagai salah satu kenangan termanis hidupnya, masa sepi yang diabadikan buat belajar. Marie sempat pula turun semangat. Pertama karena teringat keluarga dan tanah kelahirannya. Dan kedua karena ia putus hubungan dengan Lamotte, pujaan hatinya. Hal itu tentu saja mengganggu kuliahnya sampai suatu ketika ia diminta oleh Prof. Lippmann untuk menjadi asistennya. Pada akhir tahun 1893, mereka meneliti sifat magnetis baja yang banyak mengalihkan perhatiannya dan memberinya banyak pengalaman dalam penelitian.

Pierre Curie


Marie dan Pierre Curie
Marie dan Pierre Curie

Suatu ketika, Marie mengunjungi rumah seorang ahli fisika Polandia dan dikenalkan pada Pierre Curie. Dasar jodoh, keduanya ngobrol sana-sini tetap saja nyambung. Mereka sama-sama serius dan memiliki tingkat intelektual yang sejajar namun sama-sama pula sering dianggap "tidak diperhitungkan". Pierre adalah ahli fisika Perancis penemu piezoelektrik dan elektrometer. Saat itu ia menjabat sebagai kepala lab School of Industrial Physics and Chemistry. Tidak lama kemudian, mereka menikah. Bulan madunya sederhana yaitu bersepeda keliling Inggris. September 1897, putri pertamanya, Irene lahir.

Radioaktivitas

Semenjak Wilhelm Rontgen menemukan fenomena luminensi sinar X dan Henri Becquerel mengaitkannya dengan fluoresensi, keingintahuan ilmuwan tentang bidang radiasi semakin menjadi-jadi. Sayang sekali, penelitian ini menemui jalan buntu karena belum dapat mengungkap jenis radiasi aneh yang berbeda dengan sinar X. Becquerel sendiri waktu itu hanya tahu adanya sinar yang sangat kuat, tidak dapat dilihat dan sama sekali belum dikenal.

Marie Curie merasa tertantang dengan kelanjutan penelitian Becquerel. Ia mulai bereksperimen tanggal 16 Desember 1897 tentang radiasi potasium uranil sulftat. Lalu dilanjutkan dengan penelitian radioaktivitas pada beragam uranium. Dari eksperimen yang dikerjakannya bersama suaminya itu, ternyata ia menemukan fakta bahwa uranium lebih radioaktif dalam bijih (pitchblende) daripada dalam keadaan murni. Jika pitchblende beradioaktivitas sebesar 83 x 10-12 ampere, garam uranium hanyalah 0,3 x 10-12 ampere. Dari sini ia menduga ada unsur lain dalam bijih tersebut. Dengan penyulingan kimiawi didapatlah unsur yang dinamainya polonium sesuai tanah kelahirannya. Dalam publikasinya "On A New Radioactive Substance Contained in Pitch Blende" ia memaparkan bahwa polonium 400 kali lebih radioaktif dibanding uranium.

Namun pasangan itu yakin masih ada unsur radioaktif lain dalam bijih tersebut. Mereka mengundang ahli spektroskopi kimia, Eugene Demarcay, untuk menganalisis keberadaannya. Sesuai dugaan memang terdeteksi spektra baru dari unsur temuan yang kemudian mereka namakan radium.

Untuk analisis lebih lanjut dibutuhkan radium dalam jumlah besar dan tentunya dibutuhkan bijih yang banyak pula. Mereka mengangkut bijih sisa tambang ke laboratorium mereka secara perodik. Suatu pekerjaan melelahkan yang bagi orang awam terhitung aneh sehingga sampai-sampai mereka diolok sebagai pasangan gila. Setelah bahan dan alat tersedia, Marie layaknya ahli kimia mengekstrak radium sementara Pierre Curie menggunakan fisika untuk meneliti sifat radioaktifnya. Pada 1902, pasangan Curie mengisolasi hanya 0,1 gram radium dari lebih dari satu ton bijih.

Nobel

Tahun 1903 hadiah Nobel Fisika dianugerahkan separuh untuk pasangan Curie dan separuh lagi untuk Henri Becquerel atas jasa-jasa mereka dalam penemuan radioaktivitas.

Duka mendalam bagi keluarga Curie saat Pierre meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dengan sepeninggal Pierre, jabatan profesor di Sorbonne kosong dan akhirnya dipilihlah Marie sebagai penggantinya. Untuk pertama kali seorang wanita mengajar di Sorbonne! Dalam opini Le Journal terbitan 6 November 1906 kuliahnya dikomentari sebagai berikut: "Hari ini kita menyaksikan perayaan kemenangan bagi kaum wanita. Jika seorang wanita telah diperbolehkan mengajar tentang ilmu-ilmu tinggi, dalam bidang apalagi kaum pria akan bisa menunjukkan kelebihan mereka? Perlu diketahui bahwa sudah tiba saatnya wanita akan diakui sepenuhnya sebagai manusia."

Baru pada tahun 1911 Marie mendapat Nobel Kimia atas penemuan polonium dan radium, isolasi radium serta penentuan sifat-sifanya. Nobel keduanya ini membuatnya semakin terkenal dan percaya diri. Sebagai bentuk penghargaan pada dirinya, presiden AS Harding atas nama kaum wanita amerika menghadiahinya 1 gram radium murni senilai US$ 100.000.

Sesuai tekadnya untuk menyerahkan seluruh hidupnya bagi pelayanan kemanusiaan dengan menggunakan sains maka ia banyak terjun langsung dalam pemanfaatan sinar X untuk menangani korban perang. Di samping itu, Marie Curie mendirikan Institut Radium di Paris dan Warsawa, Polandia. Juni 1934, ia dirawat di sanatorium karena penyakit leukimia akibat paparan tinggi radium selama penelitiannya. Ia meninggal dunia pada 4 Juli 1934. Meskipun demikian, ia meninggal dengan penuh kebanggan sebab bukan hanya karena dirinya berhasil mengukir prestasi gemilang dalam ilmu pengetahuan namun lebih dari itu karena anaknya Irene Curie pun berhasil mengikuti jejaknya dengan menemukan radioaktivitas buatan beberapa bulan sebelum ia tiada. Ternyata Marie benar-benar seorang wanita yang menonjol dalam ilmu tanpa harus mengabaikan kewajibannya sebagai ibu. Tidak berlebihan bila ia dijuluki "Einsteinnya kaum perempuan". Banyak wanita muda yang tergugah setelah membaca kisahnya dan karyanya yang inspiratif. Sekarang ini ilmuwan wanita sudah menjadi lazim bukannya tanpa teladan dan kepeloporannya. Ada yang mau jadi Marie Curie abad ini?

Professor Ryoji Noyori : Peraih Nobel kimia 2001

Pengumuman Professor Ryoji Noyori (63 tahun, Nagoya University) sebagai salah satu peraih hadiah Nobel kimia membawa kebanggaan tersendiri bagi pemerintah Jepang dan masyarakatnya. Ini berarti, 2 tahun berturut-turut ilmuwan Jepang berhasil meraih hadiah Nobel. Noyori adalah orang Jepang ke-7 yang menerima hadiah Nobel bidang ilmu pengetahuan (Fisika/Kimia/Biologi/Kedokteran).

Hadiah Nobel selalu disangkutpautkan dengan level dan kemampuan sains suatu negara. Jepang sering dikenal sebagai negara berteknologi tinggi. Barang-barang elektronika adalah buatan Sony, Toshiba, serta Fujitsu, kemudian mobil-mobil buatan Toyota, Nissan dan Mistubishi juga cukup merasuk ke penjuru pasaran dunia. Namun Jepang terasa kurang dalam hal orijinalitas iptek. Ini bisa juga dilihat dari sedikitnya jumlah penerima hadiah Nobel asal Jepang selama ini.

Tidak heran pemerintah Jepang, ingin membuang jauh image negatif tentang kondisi ipteknya. Tahun lalu, dalam renstra iptek tahap ke-2, Council for Science and Technology (CST) Jepang telah menetapkan target 30 hadiah Nobel dalam jangka waktu 50 tahun ke depan. Ini berarti minimal dalam 2 tahun, harus ada satu peraih hadiah Nobel dari Jepang. Target pemerintah Jepang ini memang bagi orang awam, sangat mudah untuk dimengerti. Penilaian atas keberhasilan atau kegagalan proyek tersebut juga mudah dilakukan.

Namun di sisi lain, ada hal yang dikhawatirkan oleh beberapa kalangan peneliti. Professor Hideki Shirakawa peraih hadiah Nobel Kimia tahun 2000, yang juga menjadi anggota CST ikut khawatir. Sebaiknya kita jangan terlalu terpaku pada suatu angka, tandasnya. Meskipun di lain pihak, ia sendiri ikut merasa gembira atas kemauan pemerintahnya untuk memperbaiki lingkungan riset iptek, demi tercapainya target.

Kritik Pedas

Terhadap target pemerintah Jepang tersebut, Noyori juga ikut mengkritik lebih pedas. Penetapan target 30 peraih hadiah Nobel tersebut, justru dikhawatirkan mengesampingkan makna dari penelitian itu sendiri. Saya rasa pemerintah thoughtless (kurang berpikir) dalam hal ini, tuturnya dengan pedas. Ketika dikabarkan bahwa ia adalah pemenang hadiah Nobel Kimia 2001, Noyori sendiri merasa bergembira. Itu berarti pihak Royal Science Academi telah menilai bahwa penelitian yang telah saya lakukan benar-benar memberikan makna, tuturnya mantap. Namun demikian, Noyori menandaskan bahwa meraih hadiah Nobel tidak bisa disamakan dengan meraih medali emas dalam suatu olahraga. Tidak ada aturan yang baku, sehingga semua orang bisa dengan mudah mentargetkannya dari awal.

Menurut Noyori, sains adalah mirip dengan seni. Yang terpenting adalah bagaimana ilmuwan bisa mengerahkan tenaganya untuk suatu riset yang disenanginya, kata Noyori sambil menjelaskan prinsipnya dalam riset. Sebaiknya kita tidak usah terlalu memikirkan target hadiah Nobel. Dan bagi pemerintah, tidak perlu terpaku pada jumlah penerimaan hadiah Nobel. Yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah bagaimana pemerintah membuat kondisi lingkungan meneliti yang nyaman bagi para ilmuwan.

Selanjutnya ketika ditanya tentang fungsi universitas, Noyori kembali menegaskan bahwa universitas bertugas penuh sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sains. Menurut Noyori, kebijakan pemerintah untuk menjadi universitas sebagai pendukung industri adalah keliru. Kondisi industri Jepang yang lemah saat ini, dikarenakan oleh lemahnya kondisi riset di dalam industri itu sendiri.

Wawancara terbuka dengan Professor Noyori dilaksanakan di kantor Chemical Society of Japan (CSJ). Peraih hadiah Nobel kimia ini telah ditetapkan untuk menjabat sebagai presiden CSJ periode mendatang. Meskipun khawatir akan kesibukannya di CSJ, namun bagi Noyori yang terpenting adalah penelitian, dan yang kedua adalah pendidikan. Ia tak ingin mengubahnya, meskipun kesibukannya akan terus bertambah.

Sumber : Berita Iptek

Richard E Smalley, Robert F Curl, Jr (keduanya dari Rice University, Houston, Amerika Serikat), dan Sir Harold W Kroto : peraih Nobel Kimia 1996

Buckminsterfullerene ditemukan secara tidak sengaja. Awalnya, ketiga ilmuwan itu ingin mempelajari pembentukan molekul karbon berantai panjang dalam suasana panas. Ini untuk membuktikan hipotesis Kroto mengenai molekul karbon dan nitrogen berantai panjang (sianopoliina) yang banyak terdapat di atmosfer bintang besar merah.

Pada tanggal 1 September 1985, bertempat di Houston, ketiga ilmuwan ini bersama JR Heath dan SC O’Brein melakukan percobaan penguapan grafit dengan alat yang telah dibuat oleh Smalley, yaitu laser-supersonic cluster beam apparatus. Grafit disinari langsung dengan sinar laser. Atom-atom karbon yang terionisasi (plasma karbon) kemudian dicampur dengan aliran gas helium, dikombinasikan, dan didinginkan dalam wadah vakum sampai beberapa derajat di atas suhu nol mutlaknya. Selanjutnya dianalisis dengan spektrometer massa (suatu alat untuk mengetahui bobot molekul).

Mereka terkejut, sebab dari data spektrometer massa menunjukkan terbentuknya cluster karbon yang terdiri dari 60 dan 70 atom karbon. Cluster 60 karbon (C60) yang lebih melimpah. Kelompok peneliti ini medapatkan sesuatu yang lain untuk dipikirkan lebih lanjut. Timbul dugaan bahwa C60 mempunyai struktur mirip bola karena molekul ini stabilitasnya tinggi dengan diasumsikan sebagai kerangka tertutup bersimetri tinggi. Kemudian mereka menamai bentuk baru karbon ini dengan nama buckminsterfullerene, yang diambil dari nama seorang arsitek Amerika Serikat, R Buckminster Fuller yang mendesain bagunan berkubah seperti bola untuk World Exhibition 1967 di Montreal, Kanada.

Penemuan struktur unik C60 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada tanggal 14 November 1985, sangat menghebohkan serta mendapat tanggapan pro dan kontra. Sebelumnya tidak ada fisikawan dan kimiawan yang memperkirakan bahwa karbon murni mempunyai bentuk lain. Sebagaimana diketahui hanya terdapat dua bentuk karbon murni, yaitu grafit yang terdiri dari lembaran dua dimensional, dan yang kedua adalah intan, yakni jejaringan atom tiga dimensional.

Untuk memperoleh kejelasan, dari tahun 1985-1990, Curl, Kroto, dan Smalley lebih lanjut meneliti C60. Mereka mencoba mereaksikannya dengan hidrogen, karbon monoksida, sulfur dioksida, oksigen, atau amonia. Dari data spektrometer massa tidak diperoleh perubahan puncak C60. Hasil ini menunjukkan C60 adalah senyawa yang sukar bereaksi.

Selain itu, mereka juga berhasil membuat cluster karbon dengan jumlah atom karbon genap (40-80) yang bereaksi lambat seperti C60. Bukti lanjut menunjukkan bahwa semua cluster itu memiliki struktur tertutup, menyerupai sangkar. Kombinasi antara sifat kimia dan struktur tertutup mirip dengan C60, maka mereka pun menamai golongan cluster karbon dengan nama fullerene.

Pada tahun 1990, D R Huffman and W Kratschmer untuk pertama kalinya berhasil mengisolasi C60. Kedua astrofisikawan itu melakukan percobaan dengan cara memanaskan dua batang grafit dengan arus listrik sampai suhu tinggi di dalam atmosfer helium bertekanan 13 kPa. Kedua batang grafit itu menyusut secara perlahan dan menghasilkan jelaga. Jelaga yang terbentuk kira-kira mengandung 10 persen C60 dan C70. Jelaga itu kemudian dikumpulkan dan diberi perlakuan dengan benzena untuk melarutkan C60 dan C70, yang kemudian dapat dipisahkan dengan metode kromatografi kolom dan ditentukan strukturnya. Hasil penelitian Huffman dan Kratschmer mendukung kebenaran hipotesis struktur C60.

Penemuan buckminsterfullerene dan metode untuk mengisolasinya telah membuka pintu ke bidang kimia dan ilmu material baru yang menarik. Kimia Fullerene menjadi cabang baru ilmu kimia. Buckminsterfullerene menjadi topik pembicaraan dan penelitian yang menarik. Bahkan pada tahun 1991, molekul ini dielukan sebagai Molecule of the Year dan gambarnya menghiasi sampul depan majalah Scientific American.

Beberapa sifat fisik dan kimia buckminsterfullerene antara lain berupa serbuk hitam, tidak larut air, bereaksi lambat dengan gas seperti hidrogen, berbobot molekul 720, berdensitas 1,72 g/cm3, sangat stabil, dan bersimetri tinggi. Selain itu, yang menonjol adalah strukturnya yang indah.

Kegunaan "buckminsterfullerene"
Meskipun aplikasi praktis molekul ini belum terealisasikan, seperti penemuan superkonduktor yang diaplikasikan dalam kereta api super cepat, C60 dan turunannya menjadi topik penelitian yang menarik. Hasil penelitian di University of California, San Francisco, menyatakan turunan C60 dapat menghambat virus HIV-1 dan HIV-2 yang menyebabkan penyakit AIDS. Selain itu, penelitian di University of California, Santa Barbara, telah berhasil membuat turunan C60 yang larut air dan bahan ini mampu memblokir HIV protease yang merusak protein.

Alan J Heeger (salah seorang penerima hadiah Nobel Kimia 2000) beserta koleganya memanfaatkan C60 sebagai akseptor dalam pembuatan material untuk sel fotovoltaik, yaitu alat yang dapat mengubah sinar matahari menjadi listrik (Science, Vol. 270, 15 Desember 1995).

C60 dapat dengan mudah menerima elektron dan membentuk ion-ion negatif. Bila direaksikan dengan logam alkali (contohnya kalium), akan membentuk K3C60, suatu material kristalin baru yang menjadi superkonduktor pada suhu 19 K. C60 dapat digunakan untuk membuat tabung terkecil di dunia (nanotubes) dari karbon. Tabung ini dapat ditutup pada salah satu ujung atau kedua ujungnya. Material ini mungkin dapat diterapkan dalam industri elektronika karena keunikan sifat-sifat mekanik dan listriknya. Gambar 2 menyajikan bentuk K3C60 dan nanotube. C60 dapat juga digunakan sebagai katalis karena C60 dapat menerima dan mendonorkan elektron. Penggunaan C60 sebagai katalis akan menggantikan katalis logam yang mahal dan beracun

Dari sejarah penemuan buckminsterfullerene menunjukkan kepada kita bahwa kolaborasi disiplin ilmu yang berbeda (dengan bukti-bukti ilmiah yang sahih) akan melahirkan hasil yang mengagumkan dan tidak diperkirakan sebelumnya. Buckminsterfullerene adalah molekul yang stabil dan indah. Sesuatu yang indah itu pastilah akan menarik.

(Oleh Herman Yudiono, mahasiswa Kimia FMIPA IPB, dan R Panji Ahmad Hidayatullah, alumnus Kimia FMIPA IPB)

Linus Carl Pauling : Peraih Nobel Kimia 1954

Linus Carl Pauling adalah kimiawan terkenal abad ke-20. Dia juga merupakan satu-satunya penerima dua Hadiah Nobel yang dianugerahkan hanya kepada seorang individu, walau untuk dua kategori yang berbeda: Nobel Kimia pada tahun 1954 dan Nobel Perdamaian pada tahun 1962. Dalam masa hidupnya selama 93 tahun (lahir tahun 1991 dan meninggal tahun 1994), Linus Pauling berhasil menobatkan dirinya menjadi salah satu ilmuwan terkemuka dunia dengan berbagai hasil penelitiannya yang merambah ke banyak bidang. Ini disebabkan karena Dr. Pauling tidak sungkan-sungkan mendalami berbagai disiplin ilmu: dari kimia ke fisika dan matematika, ke biologi dan kedokteran serta kesehatan. Bahkan, dia lebih senang disebut sebagai seorang ‘ilmuwan’ ketimbang seorang ‘kimiawan’.

Karyanya di bidang kimia yang sangat dikagumi adalah hasil penelitiannya tentang sifat-sifat ikatan kimia yang tertuang dalam bukunya yang terkenal "The Nature of the Chemical Bond and the Structure of Molecules and Crystals: An Introduction to Modern Structural Chemistry". Buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1939 ini menjelaskan secara rinci bagaimana sifat-sifat ikatan kimia menentukan struktur suatu molekul dan bagaimana struktur molekul ini menentukan kualitas molekul tersebut. Hal yang menarik dari hasil risetnya ini adalah penjelasan Pauling mengenai fenomena ikatan kimia (covalent atau ionic) dengan menggunakan Mekanika Quantum, suatu teori fisika yang turut dipelajarinya ketika teori ini baru lahir dan berkembang di awal abad ke-20. Dr. Pauling menemukan bahwa dalam banyak kasus, tipe ikatan kimia-kovalen atau ion-dapat ditentukan dari properti magnetik zat atau bahan itu sendiri. Dia juga membuat skala elektonegativitas unsur-unsur yang memiliki karakter kedua jenis ikatan ini (ikatan kovalen dan ikatan ion); lebih kecil perbedaan elektonegativitas antara dua atom, lebih besar ikatan kimia antar keduanya memiliki ikatan kovalen murni. Untuk menjelaskan ikatan kovalen ini, Pauling menawarkan dua konsep baru yang dipinjam dari Mekanika Kuantum: ikatan-orbital hibridizasi dan ikatan resonansi. Hibridizasi merupakan fenomena penyusunan kembali elektron-elektron suatu atom dimana elektron-elektron tersebut mengambil posisi yang lebih memudahkan untuknya mengikat dengan atom yang lain. Sedangkan resonansi adalah fenomena dimana elektron-elektron suatu atom melompat dengan sangat cepat antara dua posisi (atau lebih dari dua posisi) di suatu jaringan ikatan. Resonansi merupakan suatu penjelasan penting atas struktur geometri suatu zat dan stabilitas zat tersebut.

Temuan pentingnya yang lain di bidang kimia adalah struktur protein alpha-helix. Dr. Pauling menemukan struktur ini kala dia sedang terbaring sakit karena terjangkit flu di Oxford, Inggris. Saat itu dia sedang menjadi profesor tamu di Balliol College. Setelah bosan membaca novel-novel detektif, tetapi karena masih harus beristirahat di tempat tidur atas perintah dokter, dia lantas mulai memikirkan struktur protein. Pauling mensketsa rangkaian polypeptide di atas sehelai kertas, kemudian melipatnya sepanjang garis-garis parallel dan kemudian berhasil mengkoseptualisasi dua struktur, apha-helix dan beta sheet. Walau begitu, temuannya ini tidak dipublikasikan sampai tiga tahun kemudian (di tahun 1951) untuk meyakinkan dirinya bahwa model yang ditemukannya adalah benar.

Selain sebagai seorang ilmuwan, Linus Pauling juga sangat aktif bergerak di bidang kemanusiaan. Setelah Perang Dunia (PD) II selesai, Pauling bersama ilmuwan ternama lainnya, Albert Einstein, yang mengepalai Komite Darurat Para Ilmuwan Atom (Emergency Committee of Atomic Scientist) kerap menyerukan untuk memberhentikan tes bom nuklir di atas permukaan bumi. Menggunakan data-data sains dan statistik, Pauling mengemukakan bahwa radiasi elektromagnetik hasil ledakan bom ini membahayakan kesehatan banyak orang. Penyakit-penyakit seperti kanker dan kelainan genetik dapat disebabkan oleh radiasi ini. Dia berhasil mengumpulkan 9000 tanda tangan dari ilmuwan berbagai negara untuk sebuah petisi yang berkenaan dengan hal ini dan menyerahkannnya ke Sekjen PBB pada tahun 1958. Usahanya lantas membuahkan hasil ketika kesepakatan pengurangan pengembangan senjata nuklir dikeluarkan dan Institusi Nobel menganugerahkannya Hadiah Nobel Perdamaian.

Geoffrey Wilkinson, Pemenang Nobel Kimia 1973

Geoffrey Wilkinson, Pemenang Nobel Kimia 1973 menuturkan tentang kisah hidupnya.

Saya dilahirkan di Springside, sebuah desa yang dekat dengan Todmorden di Yorkshire sebelah barat pada tanggal 14 Juli 1921. Rumah di mana saya tinggal, bahkan hampir seluruh daerah desa telah dihancurkan oleh dewan kota lokal karena dianggap tidak layak untuk tinggal. Ayah saya, dan ayahnya, juga Geoffrey, adalah ahli tukang cat dan dekorator rumah, sedangkan anak bungsu dari 12 anak telah pindah dari Boroughbridge ke Yorkshire pada tahun 1880. Keluarga ibu saya adalah hidup dari bertani, tapi kebanyakan keluarga saya adalah tukang tenun di pabrik katun lokal, dan akhirnya ibu saya memang ikut menjadi tukang tenun ketika ia muda. Perkenalan pertama saya dengan kimia adalah di usia muda lewat kakak ibu saya yang tertua. Seorang pemain organ dan pemimpin vokal grup yang dinikahi kakak ibu saya itu memiliki perusahaan kimia kecil yang membuat garam Epsom dan garam Glauber untuk industri farmasi. Saya biasa bermain di laboratorium kecilnya, demikin juga ikut bepergian dengannya ke berbagai perusahaan kimia.

Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, saya dididik di sekolah primer dewan kota, dan setelah memndapatkan beasiswa kabupaten pada tahun 1932, saya pergi ke SMP Todmorden. Sekolah kecil ini memiliki catatan prestasi sekolah yang luar biasa, termasuk dua penerima Nobel dalam 25 tahun. Saya diajar oleh guru fisika Sir John Cockroft, tapi fisika tidak pernah menjadi mata pelajaran kesukaan saya.

Pada tahun 1939, saya mendapatkan beaasiswa dari Kerajaan Inggris untuk belajar di Kampus Sains dan Tekhnologi Imperial, di mana saya lulus dari sana pada tahun 1941. Karena waktu itu sedang terjadi perang, saya diarahkan untuk tetap di tempat dan melakukan penelitian di bawah bimbingan pendahulu saya, Professor H.V.A. Briscoe. Pada akhir tahun 1942, Professor F.A. Paneth melakukan rekrutmen ahli kimia muda untuk proyek energi nuklir di mana saya bergabung. Saya pun dikirim ke Kanada pada bulan Januari tahun 1943 dan tetap di Montreal dan selanjutnya di Chalk River hingga saya meninggalkannya pada tahun 1946.

Karena terpesona oleh prospek Kalifornia, saya melamar, dan diterima oleh Professor Glenn T. Seaborg. Selama empat tahun berikutnya di Berkeley, saya terikat untuk mempelajari taksonomi nuklir dan membuat banyak isotop neutron yang tidak sempurna menggunakan siklotron Laboratorium Radiasi.

Pada kunjungan ke Inggris pada tahun 1949, Briscoe menyarankan saya bahwa saya tampaknya tidak mungkin mendapat posisi akademik di Inggris di bidang kimia nuklir, jadi saya pergi sebagai Asosiasi Penelitian ke Institut Tekhnologi Massachusetts pada tahun 1950, saya memulai ketertarikan sebagai mahasiswa- terhadap kompleks logam transisi seperti karbonil dan kompleks olefin.

Pada tahun 1951, saya ditawarkan beasiswa asisten Profesor di Universitas Harvard, terutama karena latar kimia nuklir saya. Saya di Harvard dari bulan September 1951 hingga saya pindah ke Inggris pada bulan Desember 1955, dengan cuti panjang selama sembilan bulan di Kopenhagen bekerja di laboratorium Professor Jannik Bjerum sebagai penerima beasiswa John Simon Guggenheim. Di Harvard, saya masih melakukan penelitian nuklir mengenai fungsi eksitasi untuk proton pada kobalt, tapi saya pun sudah meneliti kompleks olefin, sehingga saya diutamakan untuk hadir merayakan penelitian Kealy dan Pauson terutama tentang disiklopentadieniliron di alam pada awal 1952.

Pada bulan Juni 1955, saya ditunjuk menjadi ketua Kimia Anorganik di kampus Imperial di Universitas London, yang mana pada waktu itu jabatan ini adalah satu-satunya posisi yang ditawarkan di Inggris dan saya mengambilnya pada bulan Januari 1956. Saya pernah di kampus dan bekerja di dalamnya, dengan beberapa kenalan mahasiswa dan rekanan pasca doktoral, kebanyakan hampir mengenai kompleks logam transisi. Saya banyak tertarik dalam kimia kompleks ruthenium, rhodium dan rhenium, dalam senyawa hidrokarbon tidak jenuh dan dengan logam yang berikatan hidrogen. Selanjutnya pekerjaan ini mengarah kepada reaksi katalitik homogen seperti hidrogenasi dan hidroformilasi olefin.

Pada tahun 1952, saya menikahi Lise Sølver, satu-satunya putri profesor Profesor dan Nyonya Svend Aage Schou, yang menjadi Rektor Sekolah Tinggi Farmasi Denmark dan kami memiliki dua putri.

Sir Geoffrey Wilkinson wafat pada tanggal 26 September 1996.

Rosalind Franklin

Ahli kimia fisika Rosalind Franklin melakukan studi pemecahan dasar pada struktur kristal DNA, molekul kehidupan, yang mengandung kode genetik tiap manusia.

Rosalind Franklin dilahirkan di London, Inggris pada tanggal 25 Juli 1920, anak kedua dari lima bersaudara. Orangtuanya bernama Ellis dan Muriel Waley Franklin. Bersekolah di kampus putri St. Paul, ia memutuskan untuk menjadi ahli ilmu sains. Pada usia 18 tahun, ia mulai meneliti di Kampus Newham, sebuah universitas keputrian di Cambridge, dan lulus pada tahun 1941. Tahun berikutnya, ia bekerja dengan Ronal Norrish, seorang ahli kimia fisika yang belakangan mendapatkan hadiah Nobel Kimia pada tahun 1967.

Dari tahun 1942 hingga 1946, Franklin bekerja untuk Asosiasi Penelitian Penggunaan Batubara Inggris, di mana ia menemukan perubahan struktur yang terjadi ketika batubara dan arang dipanaskan, yang menjelaskan mengapa sejumlah karbon membentuk grafit dengan kondisi yang sama. Untuk hasil ini, ia mendapatkan gelar Ph.D. dari Cambridge pada tahun 1945, melengkapi reputasinya sebagai ahli kimia peneliti dan bekerja di bawah tanah untuk sebuah daerah baru – serat karbon yang sangat kuat.

Dari tahun 1947 hingga 1950, Franklin mengunjungi Laboratoire Central des Services Chimiques de l’Etat di Paris dan mempelajari kristalografi sinar X. Pada tahun berikutnya, ia kembali ke Inggris dan bekerja di Kampus King di Universitas London dengan ahli fisika John Randalldalam sebuah grup antar cabang ilmu. Tugasnya adalah untuk mempelajari DNA menggunakan kristalografi sinar X. Pada tahun 1951-1952, ia menemukan dua bentuk DNA dan salah satunya adalah berstruktur heliks. Ia dan murid pascasarjana Raymond Gosling mempublikasikan sebuah paper pada tahun 1953 tentang DNA berheliks ganda. Paper itu diterima leh jurnal Nature, 11 hari setelah hal yang sama diajukan oleh Watson dan Crick. Keduanya dipublikasikan pada waktu yang beersamaan. Watson dan Crick yang menerima hadiah Nobel pada tahun 1962.

Franklin lalu bergabung dengan grup John Desmond Bernal di kampus Birkbeck. Ia tidak melanjutkan penelitian DNA tapi mengetuai grup penelitiannya, yang kemudian menjadi pemimpin dalam menetapkan struktur molekul virus menggunakan kristalografi sinar X. Grupnya diminta untuk membangun model molekul dua virus pada Pameran Dunia tahun 1958.

Rosalind Franklin didiagnosis dengan kanker rahim pada tahun 1956 dan wafat pada tanggal 16 April 1958, beberapa bulan sebelum model virusnya dipamerkan pada pameran Dunia di Brussels.

Irene Joliot-Curie : Peraih Nobel Kimia 1935

Suatu hari di tahun 1925, Irene Curie dengan mengenakan pakaian hitamnya yang longgar bergegas menuju Sorbonne untuk mempertahankan disertasi doktornya. Sekitar seribu orang memenuhi ruangan auditorium untuk melihat putri pertama Marie Curie disidang. Ibunya sendiri tidak hadir demi menghindari kemungkinan beralihnya perhatian para penonton dari anaknya ke dirinya. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi Irene. Dia sangat percaya hasil penelitian yang dikerjakannya di Radium Institute (institusi penelitian nuklir yang didirikan oleh ibunya) akan memberikannya gelar doktor. Dia pun tak lupa mendedikasikan hasil karyanya ini untuk "Madame Curie dari anak dan muridnya".

Penelitian Irene berkisar di seputar partikel-partikel alpha yang dipancarkan oleh unsur polonium yang radioaktif. Polonium, elemen yang ditemukan oleh Marie Curie di tahun 1898, adalah unsur radioaktif yang sangat sering digunakan para peneliti saat itu untuk mempelajari inti atom. Kegunaannya sebagai bahan penelitian disebabkan oleh karena polonium hanya memancarkan satu jenis radiasi: partikel-partikel alpha (inti atom Helium). Biasanya mereka meletakkan polonium dekat bahan atau unsur lain yang tidak radioaktif dan mempelajari berbagai partikel yang terkeluarkan dari bahan tersebut.

Setelah acara mempertahankan disertasi selesai, Irene pulang ke Radium Institute disambut oleh para hadirin yang memberikan ucapan selamat di sebuah pesta taman. Gelar doktor yang diraihnya menjadi berita dunia. Bahkan surat kabar di luar Perancis, the New York Times juga ikut memberitakannya.

Irene meraih gelarnya bukan tanpa kerja keras. Selain minatnya pada sains sudah terlihat dari kecil dan keahliannya memikirkan solusi masalah dengan tenang dan mendalam seperti ayahnya, didikan ibunya berperan pula. Marie tidak senang dengan sistem pelajaran Perancis yang kaku kala itu. Dia tidak setuju anak murid harus berada di sekolah lama-lama dan kerjanya menghapal saja tanpa aktivitas fisik dan praktek laboratorium. Akhirnya, dengan beberapa koleganya sesama profesor Marie membuat sekolah koperasi sendiri. Masing-masing profesor mengajarkan satu atau dua mata pelajaran. Marie mengajarkan anak-anak profesor tersebut fisika eksperimen. Sekolah ini hanya bertahan dua setengah tahun, tapi Irene tetap diajarkan matematika oleh ibunya setelah itu.

Ketika Perang Dunia I meletus, Irene bekerja sebagai radiolog. Dia membantu memasang dan mengajarkan cara memakai mesin sinar X kepada para tenaga pembantu medis di rumah sakit-rumah sakit militer. Dia percaya dengan bantuan foto sinar X, ahli bedah dapat dengan cepat menolong serdadu yang terluka di medan perang. Kiprahnya selama perang menjadikan dia seorang yang berkepribadian kuat. Dalam hidupnya di kemudian hari, Irene tidak pantang menyerah melawan penyakit TBC yang dideritanya selama 20 tahun, ketika pada saat yang bersamaan menjadi seorang ibu, periset kimia dan tokoh publik yang berpengaruh. Yang disayangkan hanya satu. Dia mendapatkan dosis radiasi yang sangat besar karena sering menggunakan mesin sinar X, menyebabkan kematiannya yang dini karena penyakit leukemia.

Setelah perang, Irene kembali dekat dengan ibunya dan bekerja di Radium Institute sambil menamatkan kuliahnya. Tidak berapa lama setelah Irene meraih S3, seorang perwira bernama Frederick Joliot datang dan melamar kerja di tempat Irene meneliti. Keduanya bertemu dan berkenalan. Walau Irene dan Fred memiliki kepribadian yang berlawanan, keduanya sadar mereka memiliki beberapa kesamaan. Pada tahun 1926, mereka pun menikah.

Di labotarium mereka bekerja menggunakan polonium (memproduksi dan mempersiapkannya untuk menjadi alat penelitian). Pada saat itu, dunia sains belum mengerti benar struktur inti atom. Belum ada yang mengerti dan menemukan netron. Ketika Irene mengandung anak keduanya, dia mencoba memecahkan masalah yang ditemukan oleh fisikawan Jerman Walther Bothe. Bothe telah membombardir elemen berilium (unsur metalik yang ringan) dengan partikel-partikel alpha polonium. Yang keluar dari berilium adalah pancaran radiasi yang sangat kuat sehingga bisa menembus timah sampai setebal 2 cm. Mulanya dia berpikir dia menemukan tipe baru sinar gamma.

Pasangan Juliot-Curie mengulang percobaan yang dilakukan oleh Bothe. Mereka membombardir lilin parafin (yang kaya akan proton) dengan partikel-partikel alpha polonium. Lilin ini mengeluarkan proton-proton dengan kecepatan sepersepuluh kecepatan cahaya. Mereka pun mengambil kesimpulan yang salah bahwa ini sinar gamma.

Ernest Rutherford, ketika membaca artikel Joliot-Curie tidak percaya kalau itu sinar gamma. "Sinar gamma tidak memiliki massa dan tidak dapat membuat partikel yang berat bergerak secepat itu," komentarnya. James Chadwick yang bekerja di laboratorium Rutherford mengulang percobaan yang sama. Tapi kali ini Chadwick mengerti apa yang terjadi dan menemukan netron. Rutherford terkenal sangat gencar mempromosikan anak-anak didik dan asistennya untuk mendapatkan hadiah Nobel. Untuk penelitian yang dilakukan Chadwick, dia berseru, "Saya ingin Jim yang mendapatkan Nobel. Tidak berbagi dengan siapapun!" James Chadwick akhirnya dianugerahkan Nobel Fisika.

Pasangan Joliot-Curie sebenarnya telah membuktikan keberadaan netron, tapi tidak dapat menjelaskannya. Sayangnya kejadian ini bukan yang terakhir kalinya mereka melewatkan kesempatan untuk mendapatkan hadiah Nobel.

etelah netron ditemukan, fisikawan Enrico Fermi melihat kegunaannya sebagai alat peneliti inti atom. Netron adalah partikel yang tidak memiliki muatan. Jika netron dengan kecepatan tinggi dapat menembus inti atom, ia dapat mengeluarkan proton. Pasangan Joliot-Curie pun mengikuti jejak Fermi mempelajari inti atom dengan memborbardir inti atom unsur-unsur yang lain dan melihat jejak-jejak partikel yang dikeluarkan memakai Wilson cloud chamber. Hasil eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan memberikan petunjuk bahwa ada satu lagi partikel subatomik yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Partikel ini bermuatan positif, tapi beratnya sama dengan elektron (positron). Lagi-lagi Fred dan Irene menebak dengan salah partikel ini. Ketika ilmuwan C.D. Anderson dari Amerika melakukan percobaan yang sama, dia menebak dengan benar dan mendapatkan hadiah Nobel. Pasangan Joliot-Curie sebenarnya telah membuktikannya adanya antimatter, tapi sayangnya mereka tidak dapat menjelaskannya.

Beberapa waktu setelah itu, mereka meletakkan polonium di dekat lempengan tipis aluminium dan mengharapkan nukleus hidrogen yang keluar. Tetapi malah netron dan positron yang keluar. Ketika mereka melaporkan hasil eksperimen ini di Konferensi di Belgia pada bulan Oktober 1933, pernyataan mereka ini ditolak oleh Lise Meitner. Meitner mengaku melakukan percobaan yang sama, tapi tidak menemukan netron. Banyak yang hadir lebih percaya Meitner ketimbang Joliot-Curie. Pasangan tersebut sempat kecewa memang. Tapi Niels Bohr dan Wolfgang Pauli yang juga hadir memberikan semangat kembali ke mereka berdua.

Mereka akhirnya kembali ke Paris di tahun 1934 untuk mengulang percobaan yang sama. Pada mulanya mereka mengasumsi inti aluminum mengeluarkan netron dan positron pada saat yang bersamaan. Untuk mengecek hipotesa ini, Fred menarik lempengan aluminum agak jauh dari polonium dan mengecek dengan Geiger Counter. Netron memang berhenti keluar, tapi dia heran ketika partikel-partikel positron masih terdeteksi oleh Geiger Counter yang dia pegang. Dia bergegas memanggil istrinya untuk menunjukkan apa yang terjadi.

Inti aluminium telah menyerap partikel-partikel alpha dari polonium, mengeluarkan netron-netron dan dalam proses tersebut, dalam waktu yang singkat, berganti jadi fosfor. Fosfor ini fosfor buatan, jadi tidak stabil. Oleh karena itu intinya mengeluarkan positron dan akhirnya berubah lagi menjadi elemen silikon yang stabil. Mereka berhasil menemukan radioaktif buatan.

Untuk hasil penelitiannya ini, pasangan Joliot-Curie dinominasikan untuk penghargaan Nobel Fisika di tahun 1934, tapi tidak dapat. Mereka akhirnya berhasil meraih Nobel Kimia tahun 1935. Nobel Kimia mereka merupakan Nobel ketiga untuk keluarga Curie. Ketika suami adik Irene, Eve, seorang diplomat bernama Henry R. Labouisse, menerima Nobel Perdamaian atas nama UNICEF (organisasi PBB untuk anak-anak) pada tahun 1965, total Nobel untuk keluarga Curie menjadi empat.

Diterjemahkan dan disadur dari:
"Irene Joliot-Curie", Nobel Prize Women in Science oleh Sharon Brtsch McGrayne

Ahmed H. Zewail :Peraih Nobel kimia 1999

Ahmed H. Zewail terserang demam sepanjang akhir pekan. Ketika beliau menerima telepon dari Royal Swedish Acedemy of Sciences, penyakit demamnya mendadak hilang. Siapakah Ahmed H. Zewail?

Ahmed H. Zewail adalah seorang Professor di California Institute of Technology yang mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang Femtokimia. Beliau menemukan teknik dan kamera laser untuk memantau pergerakan atom atom dalam reaksi kimia. Kamera ini bekerja pada kecepatan femtodetik, suatu skala kecepatan dimana reaksi reaksi kimia terjadi. 1 Femtodetik adalah 10-15 detik. Penelitian Professor Zewail telah melahirkan cabang baru di bidang kimia yaitu Femtokimia.

Kamera laser hasil penemuan Professor Zewail bekerja dengan memadukan 2 sinar yang dihasilkan molekul molekul dalam sebuah ruang vakum. Laser tersebut kemudian menginjeksikan 2 sinyal. Pertama, sinyal pompa, mengeksitasi molekul ke tingkat energi yamg lebih tinggi.Kedua,sinyal sampel,mendeteksi molekul berdasarkan panjang gelombangnya. Peneliti dapat memvariasikan waktu interval antara dua pulsa untuk menetapkan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh molekul untuk berpindah.

Sebelum perkembangan femtokimia, kita hanya dapat berteori tentang bagaimana atom atom bertemu dan bergabung. Kamera laser hasil penemuan prof. Zewail memungkinkan para peneliti untuk mengamati reaksi reaksi kimia dalam gerak lambat. Hal ini memungkinkan para ilmuwan tersebut untuk menjawab beberapa pertanyaan penting seperti bagaimana temperatur mempengaruhi reaksi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya suatu reaksi.

Nikolai Nikolaevic Semenov : Peraih Nobel Kimia 1956

Nikolai Nikolaevic Semenov dilahirkan di Saratov, Rusia, pada tanggal 3 April 1896. Dia lulus dari Petrograd University pada tahun 1917, dan pada tahun 1920 dia mendapatkan tugas dari Electron Phenomena Laboratory, Leningrad Physico-Technical Institute. Dia mengajar di Polytechnical Institute dan diangkat sebagai profesor pada tahun 1928. Pada tahun 1931, dia menjadi Direktur Institute of Chemical Physics of the U.S.S.R. Academy of Sciences, yang menjadikannya pindah dari Leningrad ke Moskow. Pada tahun 1944, dia ditunjuk menjadi profesor di Moscow State University. Setelah kematiannya pada tahun 1986, instutut tersebut kemudian diubah nama menjadi N. N. Semenov Joint Institute of Chemical Physics.

Dia mengkaji mekanisme trasformasi kimia termasuk analisis yang mendalam mengenai aplikasi teori rantai untuk berbagai reaksi, terutama proses pembakaran. Dia mengusulkan teori degenerate branching yang menjadikannya lebih mudah memahami fenomena yang berkaitan dengan periode induksi proses oksidasi. Selain itu, dia memberikan kontribusi yang sangat berharga pada bidang fisika molekuler dan juga meneliti fenomena elektron, dielectric breakdown, dan propagasi gelombang eksplosif.

Pada tahun 1956, dia berbagi Nobel Prize dengan Cyril N. Hinshelwood untuk riset mereka mengenai mekaniame reaksi kimia.

Dia menulis dua buku di bidang kinetika kimia. Yang pertama, Chemical Kinetics and Chain Reactions dipublikasikan untuk pertama kalinya tahun 1934 dan dengan edisi bahasa Inggris pada tahun 1935. Buku yang kedua, Some Problems of Chemical Kinetics and Reactivity, pertama kali dipublikasikan tahun 1954, di revisi tahun 1958 dengan edisi bahasa Inggris, Jerman dan Cina.

Dia menjadi anggota korepondensi U.S.S.R. Academy of Sciences pada 1929 dan menjadi akademisi pada 1932 dan digelari lima Orders of Lenin dan Order of Red Banner of Labour oleh Pemerintah Soviet. Dia menjadi anggota Chemical Society, London, anggota Asing Royal Society of London, dan anggota asing American, Indian, German, and Hungarian Academies of Sciences. Dia digelari Doktor Kehormatan dari Universitas Oxford dan Brussels.

Dia menikahi Natalya Nikolaevna Semenova, dan mereka memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Dia meninggal pada tanggal 25 September 1986.

William S Knowles (AS), Ryoji Noyori (Jepang) dan K Barry Sharpless : Peraih Nobel Kimia 2001

TAHUN 2001, Nobel kimia diterima tiga ilmuwan: William S Knowles yang pensiunan dari Monsanto Company (AS), Ryoji Noyori dari Universitas Nagoya (Jepang) dan K Barry Sharpless dari The Scripps Research Institute (AS). Mereka mengembangkan sintesis asimetris terkatalisis, yang hasilnya berpengaruh besar pada penelitian-penelitian ilmiah dan kini digunakan dalam berbagai pabrik penghasil obat dan bahan aktif biologis lainnya.
Temuan mereka singkatnya adalah suatu cara dimana molekul kiral tertentu dapat digunakan untuk mengkatalisis (mempercepat) dan mengontrol reaksi kimia tertentu. Saya yakin Anda telah mengenal senyawa kiral dari pelajaran Kimia SMU, yakni molekul yang tidak dapat diimpitkan dengan bayangan cerminnya, berciri memiliki sedikitnya satu buah atom C asimetrik (atom C yang terikat pada 4 gugus yang berbeda). Jadi senyawa kiral mirip dengan tangan kanan dan kiri kita (dalam bahasa Kimia keduanya disebut enansiomer).

Alam biasanya menggunakan hanya satu dari kemungkinan senyawa kiral. DNA, RNA, enzim, dan asam amino yang dijumpai di alam biasanya selalu memiliki salah satu konfigurasi dari dua kemungkinan yang ada. Misalnya pada enzim, hal ini berakibat enzim itu akan lebih menyukai enansiomer tertentu pula dari substratnya (bahan yang akan dikatalisis reaksinya). Mirip pada cara kerja anak kunci dan gembok, anak kunci tertentu hanya cocok dengan gembok tertentu, sama halnya dengan tangan kanan yang lebih cocok berjabat dengan tangan kiri.

Kebanyakan obat juga senyawa kiral, dalam kasus tertentu satu enansiomernya sangat bermanfaat, enansiomer satunya sangat berbahaya. Contohnya talidomida, satu enansiomernya dapat membantu meringankan mualnya orang hamil, sementara enansiomer satunya dapat mengganggu kesehatan janin.

Karena bentuk enansiomer tertentu sangat aktif sedang bentuk enansiomer yang lain dapat sangat berbahaya, penting untuk dapat melakukan sintesis yang memungkinkan kita menghasilkan hanya salah satu dari dua enansiomer yang mungkin.

Usaha sintesis senyawa di laboratorium kebanyakan merupakan sintesis yang simetrik, yang berarti kalau senyawa yang diinginkan itu kiral maka jumlah produk yang bersifat seperti tangan kanan akan sama dengan yang bersifat seperti tangan kiri. Reaksi asimetrik, sebaliknya, akan menghasilkan salah satu enansiomer dalam jumlah yang lebih banyak.

Agar reaksi asimetrik ini menghasilkan produk semurni dan sebanyak mungkin, katalis mutlak diperlukan. Para pemenang hadiah Nobel kimia tahun ini adalah orang-orang yang telah mengembangkan katalis kiral untuk reaksi yang penting yakni reaksi hidrogenasi dan oksidasi.

Rintisan Knowles Di awal tahun 60-an belum diketahui apakah mungkin melakukan reaksi asimetris terkatalis. Terobosan dibuat oleh William S Knowles tahun 1968 saat dia menemukan bahwa mungkin menggunakan logam transisi untuk mensintesis katalis kiral yang dapat memindahkan kekiralannya pada senyawa non-kiral dan menghasilkan produk kiral.

Reaksi yang dilakukannya adalah reaksi hidrogenasi. Walaupun katalis yang digunakannya tidak murni, Knowles menghasilkan campuran yang mengandung 15 persen lebih banyak enansiomer yang satu dibanding yang lain. Hasil ini membuka pintu bagi penelitian-penelitian baru, yang menarik secara akademis dan industri.

Setelah penemuan ini banyak sekali penelitian yang telah dilakukan untuk menerapkan, menyempurnakan dan memahami cara kerja katalis ini. Terungkap dari penelitian-penelitian itu, bahwa untuk memperbaiki katalis reaksi hidrogenasi asimetrik tadi sangat penting untuk meningkatkan selisih energi antar kompleks-kompleks teraktifkan (suatu keadaan antara, sebelum produk terbentuk), agar didapat persentase salah satu enentiomer yang lebih besar. Disinilah Ryoji Noyori mengambil peran utama.

Tahun 1980 Noyori dan rekan kerjanya mempublikasikan sintesis senyawa kompleks dari rhodium dengan ligan BINAP yang dapat berperan sebagai katalis asam amino dengan persentase satu enansiomer mencapai 100 persen. Sejak tahun 1980 senyawa ini telah digunakan untuk sinesis suatu aroma oleh perusahaan Takasago International. Noyori juga melakukan berbagai percobaan untuk meningkatkan katalis serta memperluas penerapan katalis itu.

Bersamaan dengan kemajuan dalam katalisa reaksi hidrogenasi, Barry Sharpless mengembangkan katalis kiral reaksi oksidasi. Reaksi ini membuka kemungkinan baru membangun molekul yang lebih rumit dan beberapa yang sangat penting dalam medis. Dia menemukan beberapa reaksi terkatalisis penting dan pada tahun 1980 dia dapat melakukan reaksi oksidasi asimetrik terkatalisis alkohol alilik menghasilkan epoksida kiral. Katalis yang digunakannya adalah senyawa kompleks Ti. Banyak ilmuwan yang menganggap pekerjaan Sharpless adalah penemuan terpenting dalam bidang sintesis kimia organik dalam rentang beberapa dekade terakhir.

Konsekuensi dan terapannya, seperti yang telah disebut di atas, adalah industri. Selain industri obat, industri-industri aroma, pemanis, dan juga insektisida adalah yang menikmati hasil karya mereka. Pekerjaan mereka juga telah menjadi petunjuk bagi banyak penelitian yang bertujuan mengembangkan berbagai reaksi asimetrik.
(sumber Kompas, 14 Oktober 2001)

Aaron Ciechanover, Avram Hershko dan Irwin Rose: Peraih Nobel Kimia 2004

Hadiah Nobel Kimia tahun 2004 yang diumumkan tanggal 6 Oktober 2004 ini diberikan kepada Aaron Ciechanover, Avram Hershko dan Irwin Rose atas jasanya mengungkapkan bagaimana protein dihancurkan agar memenuhi rambu pertama, “kapan diperlukan” dari tiga rambu itu.

Kontrol terhadap proses penghancuran protein ini dilakukan oleh protein juga yang menjadi penanda apakah sudah saatnya protein target yang akan dihancurkan itu perlu dimasukkan ke “kantong sampah” yang juga protein untuk dihancurkan. Protein yang menjadi penanda itu bernama ubiquitin yang berukuran hanya 76 asam amino saja. Sedangkan kantong sampah yang bisa menghancurkan protein sampai ukuran 7-9 asam amino itu adalah protein komplek berukuran sangat besar (10 ribu lebih asam amino). Sebelumnya kedua protein itu telah diketahui adanya tapi belum jelas fungsi dan keterkaitannya. Penemuan ketiga peneliti ini bermula pada tahun 1978 ketika berusaha mencari tahu mengapa proses penghancuran protein membutuhkan energi. Pada tahun itu mereka dapat memisahkan tiga fraksi yang baru menunjukkan aktifitas penghancuran protein setelah dicampur. Salah satu fraksi itu mengandung ubiquitin.

Satu tahun kemudian, mereka menunjukkan bahwa protein yang akan dihancurkan selalu ditandai dengan ubiquitin yang melekat pada protein itu secara kuat dengan ikatan kovalen. Selain itu, ada lebih dari satu ubiquitin yang berikatan membentuk polimer pada protein target. Penemuan ini memberikan bukti yang kuat bahwa polyubiquitination atau pengikatan polimer ubiquitin pada protein menjadi penanda terhadap nasib protein target itu untuk dihancurkan. Untuk itu proses ini disebut ciuman kematian/kiss of death. Proteasome bertugas mengenali tanda ubiquitin itu, melepaskannya agar bisa digunakan lagi, lalu “menghisap” protein target ke dalam badannya untuk dilumatkan.

Sehingga di sini muncul satu komponen baru yang fungsinya membedakan protein yang perlu di-ubiquitin-asi untuk dihancurkan, dengan yang belum perlu karena masih normal. Ketiga peneliti ini memberikan kontribusi besar untuk menemukan tiga jenis enzim yang bertugas dalam pengenalan ini. Menggunakan antibodi terhadap ubiquitin, mereka berhasil memisahkan ubiquitin yang berikatan dengan enzim E1, enzim E2 dan enzim E3. Menggunakan energi dari ATP, enzim E1 berikatan dengan ubiquitin dan mengaktifkan dirinya sendiri untuk dapat memindahkan ubiquitin itu kepada enzim E2.

Selanjutnya enzim E3 mengenali protein target yang akan dihancurkan. Ikatan E3 dengan protein target, menstimulasi enzim E2 yang berikatan dengan ubiquitin untuk bergabung dalam komplek itu yang menyebabkan ubiquitin miliknya berpindah ke protein target. Proses ini terjadi berulang sampai terjadi polimer ubiquitin dalam proses yang disebut polyubiquitination. Model yang diusulkan ini diperkuat dengan pembuktian bahwa sel hewan termasuk manusia mengandung beberapa jenis enzim E1 saja, puluhan jenis enzim E2 dan ribuan jenis enzim E3. Artinya memang enzim E3 yang harus berjumlah banyak untuk dapat mengenali berbagai jenis protein.

Hanya setahun setelah penemuan itu, makna penting mekanisme penghancuran protein dengan proses penandaan oleh ubiquitin ini mulai dirasakan melalui penemuan pada fenomena pembelahan sel. Pembelahan sel adalah proses yang harus dikontrol dengan ketat. Peneliti dari Tokyo menemukan sel mutan yang menunjukkan proses pembelahan abnormal dan ternyata mutasi itu terjadi pada protein ubiqutin. Sekarang mekanisme polyubiquitination sebagai penanda untuk penghancuran protein bisa dibilang menjadi dominan pada setiap proses penting dalam sel. Misalnya sebagaimana dalam pabrik, selalu ada produk yang tidak memenuhi kualitas kontrol.

Penghancuran protein berkualitas rendah yang mencapai 30% dari total protein yang diproduksi itu dilakukan melalui mekanisme polyubiquitination. Kanker adalah contoh yang jelas akibat rusaknya mekanisme ini. Protein p53 yang disebut sebagai “penjaga genom” bertugas memperbaiki kerusakan DNA. 50% jenis kanker pada manusia disebabkan oleh mutasi pada protein p53. Pada sel normal, protein p53 berikatan dengan enzim E3 yang khusus mengenalinya, bernama protein Mdm2 sehingga dapat dihancurkan bila berlebih dengan polyubiquitination. Penyakit kanker serviks yang disebabkan oleh virus papiloma terjadi karena kontrol terhadap protein p53 hilang.

Virus ini mengaktifkan enzim E3 lain yaitu protein E6-AP sehingga dapat mengenali p53 dan menghantarkannya ke proteasome untuk dihancurkan. Akibatnya sel tidak bisa lagi memperbaiki kerusakan DNA lalu terjadilah kanker. Tidak hanya pada sel hewan, pada sel tumbuhan polyubiquitination juga berperan penting. Misalnya, hampir seluruh tumbuhan tidak melakukan pembuahan sendiri karena dapat mengurangi keragaman genetik. Pencegahan ini dilakukan dengan menandai protein-protein pada serbuk tumbuhan itu sendiri dengan ubiquitin sehingga bisa dihancurkan bila akan membuahi diri sendiri.

Bila ada hidup, pasti ada mati. Pada protein, kehidupan protein yaitu proses produksi protein, penelitian terhadapnya telah memberikan 5 hadiah Nobel. Tapi baru kali ini penelitian pada proses kematian berhasil membuahkan hadiah Nobel. Sebagaimana hadiah Nobel yang hanya diberikan kepada peneliti yang masih hidup, memang manusia tidak menyukai kematian.

mekanisme-indera-penciuman
Keterangan gambar: mekanisme penghancuran protein

Yuan Tseh Lee, Peraih Nobel Bidang Kimia 1986

Yuan Tseh Lee dilahirkan pada tanggal 19 November 1936 di Hsinchu, Taiwan. Dia memulai pendidikannya ketika Taiwan berada dalam kependudukan Jepang sebagai hasil perang antara Cina dan Jepang pada tahun 1894. Pendidikan tingkat dasarnya berakhir setelah pecah Perang Dunia II yang pada waktu itu seluruh penduduk mengungsi ke daerah pegunungan untuk menghindari pengeboman yang dilakukan oleh sekutu. Setelah perang selesai dan Taiwan kembali ke Cina, dia dapat mengikuti pendidikan sekolah secara normal sebagai siswa kelas tiga sekolah dasar.

Pada tahun 1955, dia diterima di National Taiwan University dan setelah selesai sebagai mahasiswa tahun pertama dia memutuskan untuk mempelajari kimia. Tesis B.S.-nya adalah mempelajari pemisahan Sr dan Br dengan menggunakan elektroforesis kertas. Pada tahun 1959, dia berangkat ke National Tsinghua University untuk mempelajari radioisotop alami yang terkandung dalam Hukutolite. Dia memulainya sebagai asisten peneliti yang sedang melakukan penelitian mengenai penentuan struktur tricyclopentadienyl samarium dengan menggunakan sinar X. Pada tahun 1962, dia diterima di University of California di Berkeley untuk melakukan penelitian pada proses ionisasi atom alkali yang tereksitasi secara elektronik. Dalam rangka memperoleh gelar Ph.D-nya yang akhirnya dia peroleh pada tahun 1965, dia memulai penelitian dalam kajian scattering ion molekul reaktif dengan menggunakan teknik ion beam melalui pengukuran distribusi energi dan angular. Selama setahun, dia membuat peralatan scatering untuk menghasilkan pemetaan kontur distribusi produk yang lengkap untuk reaksi

N2+ + H2 –> N2H+ + H.

Pada bulan Pebruari 1967, dia bergabung dengan Profesor Dudley Herschbach di Harvard University sebagai mahasiswa penerima beasiswa postdoctoral untuk melakukan penelitian dalam mempelajari reaksi atom hidrogen dan molekul alkali diatomik dan membuat peralatan universal crossed molecular beams. Satu tahun kemudian, dia mendapatkan posisi sebagai asisten profeesor di Department of Chemistry and the James Franck Institute, University of Chicago. Dia kemudian dipromosikan menjadi associate professor pada tahun 1971 dan profesor pada tahun 1973. Pada tahun 1974, dia kembali ke University of California di Berkeley sebagai profesor kimia dan sebagai principal investigator di Lawrence Berkeley Laboratory, University of California. Dia memperoleh kewarganegaraan Amerika pada tahun yang sama. Pada tahun 1994, dia menjadi Presiden Academia Sinica di taiwan. Dia mengundurkan diri pada bulan oktober 2006 dan berencana untuk melakukan penelitian di Institute of Atomic and Molecular Sciences dan Genomics Research Center, keduanya di Academia Sinica.

Dia melakukan penelitian mengenai dinamika reaksi, proses fotokimia dan spektroskopi molekuler. Kontribusinya termasuk elusidasi berbagai proses fotokimia sebagai bagian dari penentuan struktur dari berbagai kluster molekuler yang terprotonasi dengan menggunakan spektra infra merah. Salah satu peralatan yang digunakannya adalah Molecular Beam System.

Pada tahun 1986, dia berbagi Nobel Prize di bidang kimia dengan Dudley R. Herschbach dan John C. Polanyi untuk kontribusi mereka mengenai proses elementer dinamika zat kimia. Dia memperoleh 32 gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas di seluruh dunia. Pada tahun 1969-1971, dia memperoleh beasiswa Alfred P. Sloan dan penerima Camille and Henry Dreyfus Foundation Teacher Scholar Grant (1971-1974). Dia memperoleh gelar profesor kehormatan dari Institute of Chemistry, Chinese Academy of Science, Beijing, China, 1980, Fudan University, Shanghai, China, 1980, and Chinese University of Science and Technology, Hofei, Anhuei, China, 1986.

Lee dan istrinya, Bernice Wu, keduanya bertemu untuk pertama kali pada saat mengikuti pendidikan di sekolah dasar, memiliki dua orang putra dan seorang putri.

Kenichi Fukui, Peraih Nobel Prize 1981

Kenichi Fukui lahir di Nara, Jepang pada tanggal 4 Oktober 1918. Dia merupakan lulusan Departemen Kimia Industri, Kyoto Imperial University tahun 1941. Sampai pada tahun 1943, dia melakukan penelitian mengenai bahan bakar sintetik di Army Fuel Laboratory. Kemudian, dia menjadi dosen di Fuel Chemistry Department, Kyoto Imperial University dari tahun 1951 sampai 1982 dan kemudian menjadi Profesor Emeritus. Dia memperoleh Ph. D. di bidang teknik pada tahun 1948. Pada periode April 1971 sampai Maret 1973, dia menjadi Dekan Fakultas Teknik, Kyoto University. Antara 1982 dan 1988, dia mengabdi sebagai Presiden Kyoto Institute of Technology. Setelah itu dia menjadi Direktur Institute for Fundamental Chemistry.

Dia melakukan penelitian di bidang kimia organik, katalis dan reaksi, dan teori reaksi kimia serta subjek yang berhubungan dengan itu. Penelitian yang lainnya termasuk teori statistik pembentukan gel, sintesis organik melalui garam anorganik, dan kinetika polimerisasi dan katalis. Pada tahun 1952, pekerjaan pertamanya dalam teori reaksi kimia dihasilkan ketika dia menemukan hubungan antara densitas elektron batas (frontier electron density) dan reaktivitas kimia dalam hidrokarbon aromatik yang luas dan semakin luas antara senyawa dan reaksi. Ide dasar sangatlah esensial yaitu memperhatikan pentingnya delokalisasi elektron antara orbital batas (frontier orbital) spesi reaktan. Pendekatan orbital batas dapat dikembangkan ke berbagai arah. Dia tertarik memformulasikan garis edar reaksi kimia yang memberikan informasi pada bentuk geometris reaksi molekul, dan dia membuat aturan orbital batas pada reaksi kimia dengan lebih jelas melalui visualisasi dan gambar. Untuk penelitiannya ini, dia berbagi Nobel Prize bidang kimia pada tahun 1981 bersama Roald Hoffman untuk teori mereka, pengembangan mandiri, mengenai rangkaian reaksi kimia.

Dia menerima The Japan Academy Medal pada tahun 1962, dan Order of Culture and a Person of Cultural Merits, november 1981. Dari Januari sampai Juli 1970, dia menerima National Science Foundation Senior Foreign Scientist Fellow dan US-Japan Eminent Scientist Exchange Program Chemist pada bulan September 1973. Dia merupakan anggota International Academy of Quantum Molecular Science (Perancis), penasehat Institute for Molecular Science, Foreign Associate, National Academy of Sciences, Anggota European Academy of Arts, Sciences and Humanities, Anggota Kehormatan American Academy of Arts and Sciences, Anggota Japan Academy, dan anggota Pontifical Academy of Sciences. Dia mengabdikan diri sebagai Wakil President Chemical Society of Japan tahun 1978-1979 dan sebagai Presiden, tahun 1983-1984.

Pada tahun 1947, dia menikahi Tomoe Horie dan kemudian dikaruniai satu putra, Tetsuya, dan satu putri, Miyako. Dia meninggal pada tanggal 9 januari 1998 di Kyoto, Jepang.

Koichi Tanaka : Peraih nobel Kimia 2002

Tahun 2002, The Royal Swedish Academy of Sciences menganugrahkan penghargaan Nobel Kimia kepada Koichi Tanaka (43), John B. Fenn (85) dan Kurt Wuthrich (64). Koichi Tanaka adalah seorang peneliti muda di perusahaan Smimadzu Kyoto Jepang berjasa dalam mengembangkan metode ‘soft laser desorption ionisation’ (SLD) ionisasi deabsorpsi dengan laser lunak untuk analasis spektrometer massa dari makromolekul biologi. Koichi Tanaka dilahirkan di Kota Toyama, Jepang pada tahun 1959. Meraih gelar sarjana teknik elektro pada tahun 1983 dari Universitas Tohoku dan pada tahunyang sama masuk ke perusahaan Shimadzu sebagai peneliti. Pada tahun 1987 bulan Juni pada simposium yang diadakan di kota Kyoto, Tanaka mempublikasikan metode eliminasi dengan laser lunak yang oleh karenanya dianugrahi penghargaan nobel kimia.

Dalam mempelajari makromolekul biologi, sebagai contoh protein sangat diperlukan metode analisis yang sangat akurat dan baik. Sebelum ditemukannya teknologi ini, spektrometri massa yang ada hanya dapat mendeteksi senyawa-senyawa yang massa molekul-nya relatif kecil. Seperti yang kita ketahui makromolekul seperti protein memiliki massa molekul yang amat besar. Untuk mengetahui informasi dari massa molekul tersebut berbagai macam cara digunakan seperti gel kromatografi atau SDS-PAGE yang tingkat kesalahannya mencapai 10% dan hanya mampu menganalisa massa molekul tidak lebih dari 50,000. Dengan metode ionisasi yang dikembangkan oleh Tanaka dan Prof. Fenn (salah seorang meraih nobel Kimia 2002 lainnya) mampu menganalisa protein yang memiliki massa molekul sangat besar dengan tingkat kesalahan kurang dari 0.1%. Pengembangan metode ini memungkinkan peneliti untuk menentukan struktur 3 dimensi yang menggambarkan struktur molekul protein di dalam larutan dan bagaimana fungsi protein di dalam sel. Metode ini mendorong revolusi dari ilmu farmasi modern yang menjanjikan aplikasi di berbagai bidang seperti pengontrolan bahan pangan dan diagnosis awal pada kanker payudara dan kanker prostat.

Apa itu metode deabsorsi laser lunak yang dikembangkan oleh Tanaka? Metode ini menggunakan pulsa laser dari Nitrogen 337nm untuk mengionisasi matrik dari sample protein sehingga molekul protein terlepas dalam bentuk molekul ion bermuatan rendah. Molekul ion ini kemudian diakelerasi oleh medan magnet dan dideteksi dengan mengukur waktu terbangnya. Prinsip dari metode telah mendasari berbagai macam metode deabsorsi laser lainnya, seperti MALDI, SELDI, dan DIOS.


Diag. 1 Prinsip dari spektometer massa SLD

Koinichi Tanaka merupakan salah sedikit orang yang di dalam usianya yang relatif muda meraih nobel kimia walau hanya tamat sarjana teknik S-1. Satu hal yang menarik lainnya, saat diwawancara wartawan, Tanaka mengatakan bahwa sebenarnya penemuan metodenya itu hanyalah suatu ‘kebetulan’. Dalam penelitian metode tersebut, Tanaka teledor dengan memasukkan serbuk kobalt yang seharusnya larutan gliserin ke sample yang akan dianalasi. Tanaka kemudian terkejut ketika sample dari protein dianalasisa massa molekul dapat dideteksi.
Disadur dari: Situs Nobel, Harian Asahi, dan Jurnal Kimia

Frederick Sanger , Peraih Nobel kimia 1958

Frederick Sanger dilahirkan pada tanggal 13 Agustus 1918, di Rendcombe, Gloucestershire, Inggris, dan merupakan anak kedua pasangan Frederick Sanger, M.D., seorang praktisi medis, dan istrinya Cicely. Dia belajar di Bryanston School dan St. John’s College, Cambridge, ketika dia mengambil program B.A. dalam bidang ilmu pengetahuan alam pada tahun 1939. Sejak 1940, dia melakukan penelitian di Departemen Biokimia di Cambridge University. Dia konsinten sebagai mahasiswa selama terjadinya perang dunia II dan terus melanjutkan studinya. Dari tahun 1940 sampai 1943, dia bekerja sama dengan A. Neuberger untuk mengkajian metabolisme asam amino lysine dan memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1943. Dari tahun 1944 sampai 1951, dia memperoleh Beit Memorial Fellowship untuk penelitian medis, dan sejak 1951, dia menjadi anggota staf eksternal Medical Research Council. Posisinya yang sekarang adalah Kepala Divisi Kimia Protein di Medical Research Council Laboratory untuk Biologi Molekuler di Cambridge University.

Penelitiannya mengenai penentuan struktur protein dengan mengembangkan metode baru untuk urutan asam amino. Kajian ini menghasilkan penentuan struktur insulin yang yang menghasilkannya dianugerahi Nobel Prize bidang Kimia pada tahun 1958 untuk penelitiannya mengenai struktur protein, terutama insulin tersebut. Sekitar tahun 1960 dia memulai kajian terhadap asam nukleat, RNA dan DNA. Dia mengambangkan metode untuk menentukan urutan kecil pada RNA. Penelitiannya mencapai puncaknya pada pengambangan teknik "dideoxy" untuk pengurutan DNA sekitar tahun 1975. Ini merupakan metode yang relatif cepat dan banyak digunakan untuk menentukan urutan DNA bakteriofage φx 174 dari 5375 nuleotida, DNA mitokondria manuasia (16.338 nukleotida) dan bakteriofag λ (48.500 nukleotida). Metode ini kemudian ditingkatkan pada genom manusia yang lain (3 juta nukleotida). Untuk penelitiannya ini, dia berbagi Nobel Prize bidang Kimia yang kedua baginya bersama Walter Gilbert untuk kontribusinya mengenai penentuan urutan basa dalam asam nukleat.

Singer Institute dibentuk pada tahun 1992 untuk memfokuskan diri pada pemetaan, pengurutan dam pengkodean genom manusia dan genom organisme yang lainnya. Wellcome Trust Sanger Institute didirikan pada tahun 1993 oleh Wellcome Trust dan UK Medical Research Council (MRC) di Hinxton Hall, sekitar 9 mil sebelah utara Cambridge. Wellcome Trust Sanger Institute adalah lembaga non-profit yang dibuat untuk penelitian biomedis. Dia dianugerahi Corday-Morgan Medal dan Prize of the Chemical Society pada tahun 1951. Pada tahun 1954, dia menjadi penerima Fellow of the Royal Society dan Fellow of King’s College, Cambridge. Dia juga merupakan anggota asing kehormatan American Academy of Arts and Sciences dan American Society of Biological Chemists. Dia juga anggota Academies of Science of Argentina and Brazil, anggota kehormatan Japanese Biochemical Society, dan Corresponding Member of the Association Qulmica Argentina. Pada tahun 1979, dia memperoleh Albert Lasker Basic Medical Research Award.

Pada tahun 1940, dia menikahi Margaret Joan Howe, dan mereka memiliki dua putra dan seorang putri dan dia pensiun pada tahun 1983.

Osamu Shimomura, Pemenang Nobel Kimia 2008

Pada tanggal 8 Oktober yang lalu, seorang ilmuwan Jepang, Osamu Shimomura diumumkan menjadi salah satu pemenang hadiah Nobel bidang kimia. Penghargaan ini diberikan karena ia berhasil menemukan green fluorescence protein atau protein berpendar hijau yang ada pada ubur-ubur.

Sewaktu masih berstatus mahasiswa, Shimomura diberi tugas untuk meneliti kunang-kunang laut. Sejenis binatang bercangkang lunak yang besarnya hanya sekitar 3 mm. Kunang-kunang laut ini, seperti namanya, mengeluarkan cahaya. Membuat pesisir laut Pasifik Jepang tampak berkilauan di malam hari.

Shimomura ditugaskan untuk menyelidiki apa yang menyebabkan bangkai kunang-kunang laut yang sudah mati, bisa tetap bercahaya bila disiram air laut. Ia berhasil menemukan bahwa cahaya kunang-kunang berasal dari kerja sebuah protein, luciferin, yang bertindak sebagai substrat dan sebuah enzim, luciferase. Luciferase memungkinkan luciferin berikatan dengan oksigen. Reaksi ini melepaskan foton dan terciptalah cahaya yang digunakan si kunang-kunang untuk menakut-nakuti musuh.

Berbekal pengetahuan ini, Shimomura memulai penelitian barunya di Princeton University pada tahun 1960. Ia diberi tugas untuk menyelidiki mekanisme cahaya ubur-ubur. Ia menduga kalau cahaya ubur-ubur ini dihasilkan dengan cara yang sama dengan kunang-kunang laut. Tetapi ternyata ia salah. Penelitiannya tidak maju-maju. Shimomura sampai sempat frustasi. Pikirannya begitu penuh dengan pekerjaan, siang dan malam. Sampai-sampai pulang ke rumah pun, ia tidak bisa bercakap-cakap dengan istrinya.

Suatu ketika, untuk menghilangkan penat, ia naik perahu dan menikmati kesunyian sambil terapung-apung di tengah laut. Tiba-tiba saja ia mendapat ide, kalau mekanisme cahaya ubur-ubur mungkin tidak sama dengan kunang-kunang laut Shimomura dan teman-teman sekerjanya ramai-ramai menangkap ubur-ubur. Dari 10 ribu ekor lebih ubur-ubur yang ditangkap, ia berhasil mendapat beberapa tetes protein yang selama ini dicarinya. Aequorin, protein berwarna biru, diberi nama sesuai nama ilmiah si ubur-ubur, Aequorea.

Tetapi Shimomura tidak langsung puas. Aequorin berwarna biru. Sedangkan ubur-ubur itu selain mengeluarkan warna biru, juga mengeluarkan warna hijau. Ketidakpuasannya ini membuatnya berhasil menemukan protein kedua, yang berwarna hijau. Protein kedua inilah yang diberi nama Green Fluorescence Protein, atau GFP, yang mengantarnya pada hadiah Nobel.

GFP, menerima energi dari cahaya biru Aequorin, tereksitasi dan menghasilkan cahaya hijau. Sekarang ini, GFP dieksitasi dengan sinar ultraviolet. Sifat GFP yang membutuhkan stimulant untuk mengeluarkan cahaya ini sangat menguntungkan. Seperti lampu, bisa dinyalakan dan dimatikan sesuai keperluan.

Shimomura berbagi hadiah Nobel sebesar 1,4 juta dolar Amerika dengan dua orang lainnya. Yang pertama ialah Martin Chalfie, yang pertama kali menunjukkan bahwa GFP bisa digunakan sebagai alat untuk menyelidiki berbagai fenomena biologis. Apabila DNA GFP diekspresikan pada sel tumor, molekul racun atau bahkan gen, sel dan molekul ini akan seolah bercahaya, memungkinkan para peneliti mengamati perilakunya dalam tubuh manusia. GFP bagaikan pelita yang membuka jalan bagi pengertian mendalam akan misteri alam. Dalam 10 tahun terakhir, hampir separuh dari penelitian-penelitian yang dimuat di majalah ilmiah terkemuka menggunakan GFP sebagai label cahaya.

Yang seorang lagi adalah Roger Tsien. Ia yang menjelaskan lebih detail bagaimana GFP bekerja dan juga, dengan menggunakan protein bunga karang, Tsien berhasil membuat berbagai mutan GFP dengan warna berbeda. Warna yang berbeda memungkinkan para ilmuwan menyelidiki 2, atau lebih molekul yang berbeda pada waktu bersamaan. Ini sangat berguna karena sebuah proses biologis biasanya melibatkan beberapa molekul . Mutan GFP yang dibuat Tsien juga bisa mulai bercahaya lebih cepat dari varian aslinya.

Profesor Shimomura yang pada tahun ini berusia 80 tahun, tidak dapat menyembunyik an kebahagiaannya. Ia berasal dari Nagasaki Perfecture dan tidak sempat mengenyam pendidikan yang baik pada masa kecil karena kotanya hancur oleh bom atom. Ia bersyukur karena bertemu dengan professor-profesor yang membimbingnya dengan baik. Ia juga mengaku, kalau hadiah Nobel ini tidak mungkin diraihnya kalau pada waktu itu ia terus berada di Jepang. Lingkungan penelitian di Amerika yang penuh kebebasan dan berlimpah dana pada saat itu memungkinkannya menemukan GFP.

"Manusia, pada waktu mudanya, pasti bertemu satu hal yang menarik hatinya. Yang penting adalah, tidak putus asa dan menyelesaikan apa yang dimulai." Demikian nasihatnya untuk kita semua.

Daftar Peraih Nobel Kimia

2010 Richard F. Heck, Ei-ichi Negishi dan Akira Suzuki
2009 Venki Ramakrishnan - Thomas A. Steitz - Ada E. Yonath
2008 Osamu Shimomura - Martin Chalfie - Roger Yonchien Tsien
2007 Gerhard Ertl
2006 Roger David Kornberg (59) Amerika
2005 Robert Howard Grubbs - Richard Royce Schrock - Yves Chauvin
2004 Aaron Ciechanover - Avram Hershko - Irwin Rose
2003 Peter Agre - Roderick MacKinnon
2002 John B Fenn - Koichi Tanaka - Kurt WiKthrich
2001 William S Knowles - Ryoji Noyori - K Barry Sharpless
2000 Alan Heeger - Alan G MacDiarmid - Hideki Shirakawa
1999 Ahmed Zewail
1998 Walter Kohn - John Pople
1997 Paul D Boyer - John E Walker - Jens C Skou
1996 Robert F Curl - Richard E Smalley - Sir Harold W Kroto
1995 Paul Crutzen - Mario Molin - F Sherwood Rowland
1994 George A Olah
1993 Kary B Mullis - Michael Smith
1992 Rudolph A Marcus
1991 Richard E Ernst
1990 Elias James Corey
1989 Thomas E Ernst
1988 Johann Diesenhoffer - Robert Hubber - Hartmut Michel
1987 Donald J Cram - Charles J Pedersemn - Jean Marie Lehn
1986 Dudley H - Yuan Lee - John VC polangi
1985 Prof Herbert A Houpman - Prof Jerome Karle
1984 R Bruce Merrifield
1983 He'nry Tanbe
1982 Aaron Klug
1981 Kenichi Fakul - Roald Hoffmann
1980 Paul Berg - Walter Gilbert - Frederick Sanger
1979 Herber C Brown - George Wittog
1978 Peter Mitchell
1977
1976 William N Lipscomb
1975 John Conforth - Vladimir Prelog
1974 Paul J Flory
1973 Emit Otto Fischer - Geofrey Wilkinson
1972 Christian B anfinsen - Standford Moore - Willianm H Stein
1971 Gerhard Herzberg
1970 Luis F Leloir
1969 Derek Barton - Odd Hassel
1968 Lars Onsager
1967 Manfred Eigen - Ronald G W Norrish - George Porter
1966 Robert S Mulliken
1965 Robert B Wood ward
1964 Dorothy Crowfoot Hodgkin
1963 Karl Ziegler - Giulio Natta
1962 Max F Perutz - John C Kendrew
1961 Melvin Calvin
1960 Willard F Libby
1959 Jaroslav Heyrovsky
1958 Frederick Sanger
1957 Lord Todd
1956 Sir Cyril Hinshelwood - Nikolay Semenov
1955 Vincent du Vigneaud
1954 Linus Pauling
1953 Hermann Staudinger
1952 Archer J P Martin - Richard L M Synge
1951 Edwin M McMillan - Glenn T Seaborg
1950 Otto Diels - Kurt Alder
1949 William F Giauque
1948 Arne Tiselius
1947 Sir Robert Robinson
1946 James B Summer - John H Northrop - Wendell M Stanley
1945 Artturi Virtanen
1944 Otto Hahn
1943 George de Havesy
1942
1941
1940
1939 Adolf Butenandt - Leopold Ruzicka
1938 Richard Kuhn
1937 Norman Haworth - Paul Karrer
1936 Peter Debye
1935 Frederic Joliot - Irene Joliot Curie
1934 Harorld C Urey
1933
1932 Irving Langmuir
1931 Carl Bosch - Friedrich Bergius
1930 Hans Fischer
1929 Arthur harden - Hans von Euler Chelpin
1928 Adolf Windaus
1927 Heinrich Wieland
1926 The Svedberg
1925 Richard Zsigmondy
1924
1923 Fritz Pregl
1922 Francis W Aston
1921 Frederick Soddy
1920 Walther Nernst
1919
1918 Fritz Haber
1917
1916
1915 Richard Willstretter
1914 Theodore W Richards
1913 Alfred Werner
1912 Victor Grignard - Paul Sabatier
1911 Marie Curie
1910 Otto Wallach
1909 Wilhelm Ostwald
1908 Ernest Rutherford
1907 Eduard Buchner
1906 Henri Moissan
1905 Adolf von Baeyer
1904 Sir William Ramsay
1903 Svante Arrhenius
1902 Emil Fischer
1901 Jocobus H van t Hoff

DOWNLOAD KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2018 SMP/MTS SMA/MA/ SMK/MAK

Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya pemerintah lebih awal merilis dan mempublikasikan Kisi-kisi untuk Ujian Nasional tahu...